Ukhuwah Islamiyah, masih adakah???
Aslm…Rabbana ampunilah kami dan orang-orang yang beriman sebelum kami, dan bersihkankah hati-hati kami dari ghil terhadap orang-orang beriman….sesungguhnya Engkau Maha Ra’uf dan Maha Rahim.
Ya Allah bantulah hamba mu ini untuk mudah memaffkan kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan saudara-saudara hamba….ampuni mereka ya Allah. Tunjukkan kepada kami hakikat dari ukhuwah yang telah engkau anugrahkan kepada para sahabat….hiasi jiwa kami dengan selalu husnu zhon kepada-Mu dan saudara-saudara kami….perindah akhlaq kami dengan itsar.
Ya Allah….mudahkan lisan hamba untuk mengungkapkan permohonan maaf kepada siapa pun yang telah hamba sakiti…kuatkan fisik hamba untuk dapat membantu saudara-saudara hamba yang membutuhkan….ringan kan langkah kaki hamba untuk mengunjungi mereka dan memperat silaturahmi.
Ya Allah cairkan amarah yang bersarang di dada hamba….kekesalan, hasad, iri, dengki, prasangka terhadap sesama kaum mukminin. Lembutkan hati kami agar mudah menerima nasehat….bukakan mata hati kami agar dapat melihat cahaya kebenaran….hancurkan kesombongan hati kami.
Ya Allah………tolonglah hamba-hamba-Mu yang dizhalimi….kuatkan mereka, berikan ketenangan dan kesabaran dalam hati mereka….susupkan kegembiraan dalam jiwa mereka…..bantu mereka dalam memerangi tirani angkuh yang merasa diri hebat layaknya dewa. …yang semena-mena memonopoli kebenaran….memecah belah ummat, mengkotak-kotakkan mereka dengan klaim sepihak aktivis dagang kambing. Ya Allah kepada-Mu lah temapt kembali segala urusan Engkau Maha mengetahui lagi Maha Penyayang.
N.B : Salam hangat kepada "sang dewi" Neptunus.
September 12th, 2007 at 10:45 pm
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Menjumpai,
sahabat seperjuanganku di FIB tercinta…Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadamu(sesuai nama depan Mas Adhi..)
Sesunguhnya setiap muslim mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh muslim yang lain. Salah satu hak itu adalah diingatkan ketika berbuat dzalim. “unshur akha:-ka dza:lim-an au madzlu:m-an” (tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim maupun yang didzalimi).
Untuk yang kedua, kita sudah faham, namun untuk yang pertama( menolong saudara yang berbuat dzalim) diperlukan pemahaman terhadap adab dan prosedur sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Islam telah memberikan prosedur itu, diantaranya dengan surat an_Nahl:125 ” Ud’u ila: sabi:li rabbi-ka bil hikmat-i wa al-mauidzat-i al-hasanat-i.”
Jika seorang muslim tidak melalui prosedur ini maka yang terjadi bukan maslahat justru mudharat. ingat bahwa syarat diterimanya amal ada dua yakni niat yang lurus dan sesuai sunnah(prosedur).
Mas Adhi,,Kita adalah orang yang sama-sama merasakan pahit getir dan turbulensi dakwah di kampus kita,Universitas Indonesia. Dari nyetting di asrama, berkonflik dengan rival,merawat teman kita di Rumah sakit, hingga berdebat dengan Mr.Cepy. Seharusnya kita sadar bahwa kita adalah bagian dari “keluarga” dakwah ini, kita adalah saudara mereka. saya tidak bisa membenarkan sikap saya jika saya mengumbar aib keluarga yang telah merawat,mendidik dan membesarkan saya.
Jamaah kita adalah jama’atul insan bukan jamatul malaikat.
menurut hemat saya, seorang muslim mempunyai kewajiban untuk menutup aib saudaranya, bukan membukanya. Ingat sabda Nabi: “Barang siapa yang menutup aib saudaranya di dunia maka di hari kiamat Allah akan menutup aibnya, dan sebaliknya barang siapa membuka aib saudaranya di dunia maka Allah akan membuka aib nya di akhirat kelak”. Maka jika saudara kita berbuat salah maka lewatilah prosedur itu, ingatkan dengan hikmah dan mauidzatul hasanah, dekati mereka , ajak ngobrol dan sampaikan dalam majlis yang telah disediakan, bukan yang lain. Bagi saya ketika saya sudah menyampaikan dan mereka tidak menerima maka sikap terburuk saya adalah diam terhadap sebuah keputusan, jangan sampai menggangu mereka karena yakinlah bahwa mereka adalah orang-orang shalih dan shalihat yang berbuat baik untuk memperbaiki masyarakat. jadi’ kondisi terburuk adalah diam jika memang tidak mau atau berseberangan dengan sebuah keputusan jamaah.lain halnya jika mereka adalah kaum kuffar atau munafiqin yang berbuat jahat(bertentangan dengan syariat), maka saya akan lawan mereka dengan perlawanan yang sesungguhnya, seperti yang pernah saya tunjukkan di GSM dulu.)
Mas Adhi, dakwah memang penuh onak dan duri,bukan duri dari musuh saja, kadang duri itu datang dari saudara kita (dan ini yang paaaling sakit), saya pun merasakan itu, namun apakah itu menjadi pengesahan syarat kita untuk berbuat dzalim kepada mereka dan meninggalkan jamaah? Di mana komitmen dakwah kita? Di mana komitmen harokah kita? Dimana komitmen baiat kita..??? akankah kita keluar jamaah hanya karena kita merasa kecewa dan sakit hati karena merasa banyak didzalimiii, padahal kita merasa bahwa kita telah berkorban dan membangun dakwah ini dari nol…?
setelah itu kita umbar aib jamaah yang telah membesarkan kita??? apakah ini perilaku seorang dai yang lembut hatinya, inikah seorang mujahid sejati yang berkomitmen tinggi…? AKHI, DAKWAH dan SYURGA TIDAK BISA DIBANGUN DENGAN BENCI MELAINKAN MILITANSI”
mungkin kita harus kembali ingat Iziz bertutur…kami sadari jalan ini, kan penuh onak dan duri…
Saya berprinsip jika mereka benar telah menyakiti atau mendzaliami saya maka mudah-mudahan itu akan menjadi penebus dosa saya yang setinggi gunung, dan kudoakan agar mereka mendapat ridha dari Alloh, karean saya faham bahwa mereaka adalah orang yang berusaha berbuat baik menurut kadar pemahaman dan ilmu mereka…
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang seantiasa menghidupkan sunnah Rasulullah,jika kita menginginkan mendapat syafaat beliau di yaumil kiyamah nanti….wallah-u a’lam-u bi ashshawwab-i…..(Ketua GSM FIB UI).