Syawal dan amnesia akut

October 4th, 2008 by quantum

Syawal dan amnesia akut

Alkisah, ada sekelompok burung bangau yang hidup terpencil di pedalaman hutan. Setiap hari mereka berjalan kaki menuju sungai untuk mencari makan. Hingga suatu hari, seekor bangau terpesona melihat burung elang yang terbang tinggi, berputar-putar mengintai mangsa.

“Oh, alangkah menyenangkan apabila kita bisa seperti elang yang mampu terbang, dan tidak perlu berjalan tiap hari ke sungai.” Sang pemimpin kelompok pun berkata, “Bagaimana jika kita menemui sang elang dan minta di ajarkan caranya terbang?”.

Para bangau lalu berdiri berjejer dan melambaikan sayapnya memanggil sang elang. Burung elang yang penasaran dengan lambaian sayap bangau pun segera menghampiri kawanan bangau tersebut. “Ada apa, ada yang bisa saya bantu?”

“Kami ingin engkau mengajarkan tentang caranya terbang di langit” sahut sang pimpinan bangau.

“Baiklah, tapi kalian akan mengalami proses yang sulit dan berat.” Elang mengingatkan.

“Tak masalah, kami siap.” Bangau meyakinkan.

Maka sang elang pun setiap hari datang ke sungai untuk mengajarkan kepada para bangau caranya terbang. Hari demi hari berlalu, tidak terasa telah genap 30 hari sang elang mengajarkan para bangau. Hingga akhirnya….

Para bangau pun dapat terbang dengan bebas di angkasa, mereka sangat berterima kasih kepada elang yang telah mengajarkan mereka. ”Terima kasih sekali karena telah mengajarkan kami cara terbang.”

”Tidak masalah”

”Baiklah kawan-kawan kita telah berhasil menyelesaikan pelajaran tentang cara terbang, mari kita pulang ke rumah kita dengan berjalan.”

**********

Syawal menyapa, Ramadhan telah berlalu…..masjid kembali sunyi, dan aku kembali ”jahil”

Jakarta, 4 Syawal 1429 H

09.48 WIB

Dhuha dulu ah.

N.B: Lagi-lagi gagal.

Paradok Kehidupan

October 4th, 2008 by quantum

Pagi di jalanan,
siang di jalanan,
malam di jalanan,
Aku tak pernah bertemu ayah dan ibuku,
semuanya, karena kemiskinan,
dan aku butuh sesuap nasi,
untuk hidup …

Di atas adalah sebait ungkapan pengamen anak jalanan. Dengan mata yang redup. Tanpa ekspressi. Badannya kurus dan dekil. Tak terawat. Hitam. Kaki dan tangannya kecil, kurus, hanya tulang yang terbalut dengan kulit. Rambutnya kusam dan memerah. Karena terpaan terik matahari, dan polusi Jakarta. Setiap hari. Bajunya lusuh. Giginya menguning dan penuh karang.

Anak-anak kecil itu terus menelusuri setiap jengkal Jakarta. Seperti tak punya lelah. Terus berjalan dan berlari. Mengejar setiap angkutan kota yang lewat. Tak peduli. Kadang ada yang berbelas. Tak sedikit yang masa bodoh. Membiarkan anak-anak itu berlalu. Begitu saja. Mungkin berguman. Biarkan anak-anak miskin itu. Jangan mereka dikasihani. Mereka tak berhak dikasihani.

Ramadhan memasuki hari kesebelas. Ada fenomena yang amat paradok. Getir dan menyayat. Setiap bathin. Siapa saja yang masih mempunyai hati. Hari-hari ini Jakarta mulai dipenuhi dengan yang disebut ‘gepeng’ (gelandangan dan pengemis). Entah dari mana mereka. Setiap sudut jalan di Jakarta. Pasti menemukan pengemis, pengamen, dan pemulung. Jumlahnya tak sedikit. Mereka menyeruak. Di tengah-tengah kehidupan Jakarta. Kehidupan yang egois.

Di jalan-jalan, di angkutan, di emper-emper toko, di kereta, di pasar-pasar, dan kolong-kolong jembatan, dan tempat keramaian, mereka mencari kehidupan. Di mana-mana melihat pemandangan para pemulung yang membawa keluarganya, anak-anak dan isteri, sambil mendorong gerobak. Anak dan isteri mereka wajahnya pias dan letih, mengarungi sepanjang jalan, di tengah padatnya Jakarta. Mereka terkadang tidur di jalan-jalan. Di emper-emper toko. Di stasiun kereta. Dan, di kolong-kolong jembatan. Mereka mengejar harapan. Mereka mengejar belas kasihan. Mereka mengejar kemurahan dan keramahan. Mereka mengejar orang-orang yang masih mempunyai hati. Mungkin itu hanya ilusi. Ilusi orang-orang yang tersisih dalam kehidupan.

Ramadhan memasuki hari kesebelas. Jakarta tetap padat dan sibuk. Seperti tak nampak Ramadhan. Kehidupan malam. Tak berubah. Hotel-hotel, tempat hiburan, café, dan tempat-tempat keramaian, terus dibanjiri pengunjung. Plaza. Semakin penuh pengunjung. Orang berbelanja ramai. Mereka membawa belanjaan. Tak kira-kira. Belanjaan yang aneka ragam. Orang-orang yang berduit tak peduli. Mereka menumpuk makanan. Seakan besok terjadi prahara. Mereka sudah mempersiapkan hari lebaran (idul fitri). Pakaian dan baju. Mereka mempersiapkan dan memilih. Apa saja yang mereka inginkan. Mereka sudah memilih tempat-tempat berlibur bersama keluarga. Sebagian pergi keluarga negeri. Inilah kehidupan yang paradok.

Hotel-hotel dan café ramai. Menjelang maghrib. Orang-orang yang berduit berkelompok dan berdatangan. Mereka menikmati berbagai macam hidangan. Setiap hotel dan café menyelenggarakan acara buka puasa. Kalangan ekskutif, politisi, birokrat, pengusaha, dan sejumlah artis, menyelenggarakan acara buka puasa, di tempat-tempat yang mewah. Makanan berlebih. Makanan serba nikmat dan lezat. Di rumah-rumah keluarga menyelenggarakan acara berbuka. Mereka berkumpul. Menikmati suasana Ramadhan. Kadang-kadang makanan yang berlebih dibuang di tempat sampah. Sisa-sisa makanan itu, yang terbuang disampah, dinikmati para pemulung, dan gelandangan.

Ramadhan memasuki hari kesebelas. Ritme ibadah semakin menyurut. Masjid-masjid mulai ditinggalkan jamaahnya. Sebagian masjid jamaahnya sudah tinggal separuh. Tak terdengar suara orang bertadarus. Membaca al-Qur’an. Sepi. Anak-anak muda hanya duduk-duduk. Ngobrol. Di malam hari lebih banyak mereka berkeliaran berboncengan motor atau mengendarai mobil, tak tentu arah. Laki dan perempuan. Mereka bukan muhrimnya. Ini menandakan kehidupan umat Islam mulai luruh. Masjid jamaahnya yang tersisa, tinggal orang-orang tua. Anak-anak mudanya tak lagi tertarik. Remajanya, bermain, berlari sambil membunyikan petasan. Kekusyukkan beribadah tak nampak.

Tak banyak lagi yang memperhatikan kehidupan remaja. Orangtua juga tidak. Orangtua hanya mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Anak-anak tidak dididik agama dengan ketat. Anak-anak dibiarkan menemukan jalan hidup mereka sendiri-sendiri. Mereka kehilangan identitas dan simbol-simbol Islam. Secara perlahan-lahan mereka hanya tinggal status sebagai penganut Islam. Gaya hidup dan kebiasaan mereka sudah berubah. Karena tak pernah mendapat sentuhan Islam. Mereka mereguk kehidupan modern dengan cara mereka sendiri.

Lebih ironi lagi. Mereka yang dahulu sangat sibuk mengurusi anak-anak muda, dan memberikan arahan, membina, dan mendidik, kini mereka tak nampak lagi. Mereka telah pergi. Pergi menjalani peran baru. Mereka menjadi politisi. Mereka sibuk dengan urusan poliltik. Mereka sibuk dengan urusan kekuasaan. Mereka sibuk dengan hitungan-hitungan angka. Mereka sibuk. Sangat sibuk. Mereka mereguk dan menikmati hasil kekuasaan. Mereka menikmati kehidupan baru. Mereka menikmati dengan peran baru itu. Mereka tak tertarik dengan peran yang lama. Mengarahkan, membina dan mendidik anak-anak muda, yang sangat menentukan masa depan. Mereka memilih hasil yang cepat dan konkrit, dan segera dinikmati. Mereka tak lagi memerlukan peran masa lalu. Inilah jalan menuju bencana masa depan Indonesia.

Semakin banyak orang miskin. Semakin banyak orang yang tersisih dalam kehidupan. Semakin banyak orang yang tidak mengenal agama (Islam). Semakin banyak orang yang ‘riddah’ (murtad). Karena berubahnya orientasi kehidupan. Berubah secara hakiki. Mereka tak faham dan mengerti tentang hakekatnya kehidupan. Mereka tak memahami nilai-nilai kehidupan. Mereka tak memahami dan mengerti tentang hakekat Islam. Mereka tak mendapatkan alternatif, yang dapat menjawab masa depan mereka.

Dari tahun ke tahun Ramadhan tak mempunyai makna apa-apa. Tak mengubah kualitas kehidupan umat. Mereka justru menjadikan Ramadhan sebagai tradisi. Bukan sebuah sarana memperbaharui kehidupannya. Menuju kehidupan baru. Sebagai orang-orang yang muttaqien. Orang-orang yang saling mengasihi. Orang yang saling menguatkan iman saudaranya. Sesama muslim. Ramadhan akan berakhir. Dan, orang semakin sibuk mengejar kehidupan dunia.

Mu’adz bin Jabal saat sakaratul menjemputnya di waktu fajar. Ia berdoa. “Ya Allah. Sesungguhnya Engkau tahu aku menyukai kehidupan. Tetapi, bukan karena pohon yang aku tanam, sungai yang mengalir, rumah yang aku bangun, dan istana yang aku dirikan. Tapi, demi Allah, aku mencintai kehidupan ini, karena tiga hal: pertama berpuasa di hari yang panas, kedua melakukan qiyamul lail, dan ketiga ikut meramaikan halaqah dzikir bersama para ulama”, ungkap Muadz.

Ramadhan bukan tradisi. Ramadhan bukan rutinitas. Kemenangan Islam yang pertama di perang Badr, di bulan Ramadhan. Karena Rasul bersama mereka para shahabat adalah yang orang-orang mencintai akhirat. Ramadhan bukan wasilah mengumbar syahwat perut, yang akan mencelakakan kehidupan manusia.Semoga. Wallahu ‘alam.

Oleh Mashadi

11 Sep 08 16:44 WIB

Ukhuwah Islamiyah, masih adakah???

August 28th, 2006 by quantum

Aslm…Rabbana ampunilah kami dan orang-orang yang beriman sebelum kami, dan bersihkankah hati-hati kami dari ghil terhadap orang-orang beriman….sesungguhnya Engkau Maha Ra’uf dan Maha Rahim.

Ya Allah bantulah hamba mu ini untuk mudah memaffkan kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan saudara-saudara hamba….ampuni mereka ya Allah. Tunjukkan kepada kami hakikat dari ukhuwah yang telah engkau anugrahkan kepada para sahabat….hiasi jiwa kami dengan selalu husnu zhon kepada-Mu dan saudara-saudara kami….perindah akhlaq kami dengan itsar.

Ya Allah….mudahkan lisan hamba untuk mengungkapkan permohonan maaf kepada siapa pun yang telah hamba sakiti…kuatkan fisik hamba untuk dapat membantu saudara-saudara hamba yang membutuhkan….ringan kan langkah kaki hamba untuk mengunjungi mereka dan memperat silaturahmi.

Ya Allah cairkan amarah yang bersarang di dada hamba….kekesalan, hasad, iri, dengki, prasangka terhadap sesama kaum mukminin. Lembutkan hati kami agar mudah menerima nasehat….bukakan  mata hati kami agar dapat melihat cahaya kebenaran….hancurkan kesombongan hati kami.

Ya Allah………tolonglah hamba-hamba-Mu yang dizhalimi….kuatkan mereka, berikan ketenangan dan kesabaran dalam hati mereka….susupkan kegembiraan dalam jiwa mereka…..bantu mereka dalam memerangi tirani angkuh yang merasa diri hebat layaknya dewa. …yang semena-mena memonopoli kebenaran….memecah belah ummat, mengkotak-kotakkan mereka dengan klaim sepihak aktivis dagang kambing. Ya Allah kepada-Mu lah temapt kembali segala urusan Engkau Maha mengetahui lagi Maha Penyayang.

N.B : Salam hangat kepada "sang dewi" Neptunus.

Sajak Suara

February 11th, 2006 by quantum

Sesungguhnya suara itu tidak bisa diredam

mulut bisa dibungkam

namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

Suara-suara itu tidak bisa dipenjarakan

disana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam

saya siapkan untukmu: PEMBERONTAKAN

Sesungguhnya suara itu bukan perampok

yang ingin merayah hartamu

ia ingin bicara

mengapa kau kokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu

menuntut KEADILAN?

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

ia lah yang mengajari aku bertanya

dan pada akhirnya tidak bisa tidak

engkau harus menjawabnya

apabila engkau tetap bertahan

aku akan memburumu seperti KUTUKAN.

(Wiji Thukul)

Kisah anak terbuang

January 13th, 2006 by quantum

Ini kisah seorang anak yang terbuang dari keluarganya, berjalan sendiri mengarungi kerasnya kehidupan. Tanpa rumah yang dapat dijadikan tempat berteduh, tanpa orang tua tempat tumpuan kasih sayang.

Ini kisah sang anak terbuang, yang berjalan sendiri mencari makna kehidupan. Karena ayah dan ibu tidak mau lagi mentolerir pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulutnya tentang persahabatan, perdamaian, dan rasa percaya. Mereka marah besar….kala anaknya menjalin persahabatan dengan rekan sebayanya.

Ini kisah anak terbuang, yang tetap memendam cinta dan sayang kepada orang tuanya. Walau mereka telah membuangnya, namun mereka juga pernah berjasa membesarkan dan mengajarkan moral. Mengasah nurani, mempertajam akal, serta memeperluas cakrawala.

Ini kisah sang anak terbuang, yang masih berharap ayah dan ibunya mau berpaling sejenak dan kembali memanggilnya. Melupakan segala kenangan buruk yang menghiasi hubungan antar mereka. Memulai lembaran baru, dengan penuh cinta tanpa curiga, saling percaya bukan prasangka.

Ini kisah anak terbuang, dan inlah kisah ku.

Lets talk about love

November 23rd, 2005 by quantum

Kadang ku merasa aneh
Ketika banyak manusia yang menolak untuk jatuh cinta
banyak alasan yang mereka ajukan
mulai dari menjaga hati hingga memang sudah bosan patah hati
Entahlah ku tetap memandangnya aneh

Kenapa harus takut jatuh cinta?
ia adalah sebuah perasaan suci
anugrah Illahi yang patut disyukuri bukan dirutuki
bukankah Ia menciptakan dunia atas dasar cinta?
Atas dasar cinta baginda saw mau kembali ke bumi
setelah mi’raj dan diperlihatkan surga dan neraka
Atas dasar cinta seorang Ibu melahirkan dan merawat anaknya
Manusia saling mengasihi
binatang buas tidak memangsa anaknya
Lalu kenapa harus takut jatuh cinta?

Dengan Cinta, mereka yang penakut menjadi pemberani
mereka yang pelit menjadi dermawan
mereka yang malas menjadi tekun
mereka yang kasar hatinya menjadi lembut
dengan cinta, dunia menjadi penuh warna
kaya akan sya’ir, sajak, puisi, dan lagu
serta segala yang baik,indah lagi menyenangkan

Namun Cinta tidak sama dengan nafsu
Cinta adalah memberi,bukan meminta
Cinta memberdayakan bukan memperdaya
cinta ada pada esensi bukan bentuk
hakikat bukan kemasan
Maka berbahagia lah mereka yang hatinya dipenuhi cinta
Namun meranalah mereka yang disesatkan nafsu dan mengira itu cinta

Maka jangan pernah lagi takut jatuh cinta!!!!!

Racauan sang Penyendiri

October 24th, 2005 by quantum

Manusia itu lemah, renungkanlah berapa banyak beban fisik yang sanggup kita tanggung??? 10. 20. 25 kg???? lalu berapa pula beban mental yang sanggup kita pikul???? Lihatlah banyaknya penyakit, virus, dan bakteri yang bertebaran kemana2, berukuran kecil, namun mampu membuat kita kalang kabut.

Manusi itu bodoh, lihatlah semakin banyak ilmu yang kita pelajari hal ini justru menegaskan betapa kita bodohnya kita dan banyaknya hal yang belum kita ketahui. Manusia itu kikir, perhatikan berapa banyak pengemis, gembel, pengamen bahkan negara2 yang tebelakang secara ekonomi. Lalu bandingkan dengan acara2 reality show yang marak di TV, bertabur kemewahan menjual mimpi, dan tak jarang mengekslpoitasi kesengsaraan orang lain demi rating contoh: Uang Kaget, Tolong, dll.

Manusia itu pendengki, pendendam, serta pemarah. Coba simak berita2 yang muncul di media, baik cetak maupun elektronik, kapan kita terakhir kali membaca atau mendengar, atau menonton berita kriminalitas, entah pembunuhan, pemerkosaan, perampokan. dsb….bahkan berita2 tsb memiliki space tersendiri dlm media, contoh Buser, Segap, Koran lampu Merah, dsb.

Lalu untuk apa kita diciptakan??? Benarlah apa yang proteskan malaikat di awal “…mengapa Engkau hendak menciptakan makhluk yang akan menimbulkan perpecahan dan pertumpahan darah…”
Apa arti kehidupan???

Sahabat sejati ku

October 23rd, 2005 by quantum

Apalah arti sebuah persahabatan tanpa saling memahami?
Berjalan bersama namun tidak sehati?
Bergerak bersama namun tidak sevisi?
Fisik kita bertemu namun hati kita jauh,
Lalu untuk apa dipertahankan?

          Manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan sendiri

          Kelak mati pun sendiri,

          Dan mempertanggungjawabkan segala amalannya pun sendiri

          Lalu mengapa harus takut berjalan sendiri?

          Sebab kadang bersama itu membelenggu, sendiri justru membebaskan

"Maka jika tlah tiba waktu ku

Ku ingin tak seorang pun kan mengganggu

Tidak juga KAU"

Sajak Sunyi

April 11th, 2005 by quantum

Sunyi…
Sepi…
Sendiri…

ku tatap langit kemerah-merahan
angin berhembus pelahan…sejuk

Hari ini ku kembali melakukan hal itu
kebodohan yang selalu dan selalu ku ulangi
tanpa pernah ku sanggup untuk menghentikannya
namun sumpah!! Gw bosan

Bosan dengan segala rutinitas hidup
bosan dengan berbagai problem diri
bosan melakukan hal yang sama
untuk kemudian menjelaskannya kepada orang-orang
lagi…dan lagi…dan lagi…bosan!!!

maka akhirnya hanya ada sunyi…sepi…sendiri